Jejak Langkah Para Tamu-Nya

  • TGH. Hardiyatullah, M.Pd
  • Disukai 2
  • Dibaca 220 Kali
Di depan masjid Quba

Tanggal 10 Januari 2026, tepat pada Sabtu dini hari, langkah-langkah doa mulai berangkat meninggalkan kampung halaman. Para jamaah umroh bersiap menuju Bandara Internasional Zainuddin Abdul Madjid dengan hati yang telah lebih dulu terbang ke Tanah Suci.

Sebagian jamaah dari Lombok Utara berangkat sebelum subuh, sementara rombongan dari Lombok Tengah dan Lombok Barat menyusul ba’da subuh. Bandara pagi itu dipenuhi pelukan, air mata, dan senyum yang tak sepenuhnya bisa disembunyikan. Bahagia karena akan menjadi tamu Allah, sedih karena harus meninggalkan keluarga tercinta. Namun begitulah kehidupan—perpisahan sering kali menjadi pintu menuju kemuliaan.

 Saat jamaah memasuki bandara, petugas travel membagikan paspor, visa, tiket, dan ID card sebagai syarat perjalanan. Momen sederhana ini mengajarkan bahwa safar menuju tempat mulia tetap harus dijalani dengan tertib dan mengikuti aturan. Niat suci saja tidak cukup tanpa kelengkapan yang benar, karena setiap perjalanan membutuhkan identitas, izin, dan keteraturan agar sampai ke tujuan dengan selamat.

Di balik itu tersimpan hikmah yang dalam: sebagaimana paspor menjadi tanda pengenal dan tiket menjadi izin melangkah, dalam perjalanan hidup pun kita memerlukan iman sebagai identitas diri, amal sebagai tiket menuju kebaikan, dan adab sebagai tanda kemuliaan akhlak. Dengan itulah perjalanan, baik di dunia maupun menuju akhirat, dapat berjalan lurus dan diridhai Allah.

  Ada kisah-kisah kecil yang membuat suasana semakin hangat dan penuh makna. Sebagian jamaah memilih menaiki tangga karena rasa takut menggunakan eskalator. Langkahnya mungkin lebih pelan, namun tekadnya tetap sama: sampai dengan selamat dan penuh keyakinan. Dari hal sederhana itu terlihat bahwa setiap orang memiliki batas dan keberanian yang berbeda-beda.

Safar umroh sejak awal telah mengajarkan satu pelajaran penting: ujian tidak selalu hadir dalam bentuk besar. Ada yang diuji dengan jarak, ada yang diuji dengan rasa takut, bahkan sebelum pesawat benar-benar lepas landas. Namun selama niat tetap lurus dan langkah terus dilanjutkan, setiap ujian justru menjadi bagian dari nilai ibadah itu sendiri.

Pukul 10.00 WITA, pesawat Batik Air OD367Y take off. Tiga jam mengudara, jamaah mendarat pukul 13.05 di Bandara Internasional Kuala Lumpur. Perjalanan dilanjutkan menuju terminal lain menggunakan kereta cepat bandara. Hampir 3 jam menunggu, hingga pukul 16.30, seluruh jamaah—bersatu dengan rombongan travel lain—menaiki satu pesawat khusus umroh menuju Jeddah.

Dari pukul 17.25 hingga 20.22,( waktu saudi) perjalanan udara yang panjang pun dimulai. Hampir sembilan jam berada di atas pesawat tentu bukan waktu yang singkat. Duduk terlalu lama, fasilitas toilet yang berbeda, hingga guncangan pesawat akibat cuaca buruk menjadi cerita dan ujian tersendiri bagi para jamaah. Namun justru di situlah letak makna ibadah: umroh bukan hanya tentang tiba di tujuan, tetapi tentang kesabaran dan keteguhan selama perjalanan.

Akhirnya, pesawat mendarat dengan selamat di Jeddah pada pukul 20.22 waktu Saudi, membawa rasa syukur yang dalam di setiap hati jamaah. Setelah seluruh proses imigrasi selesai dan koper dinaikkan ke dalam bus, perjalanan panjang masih harus dilanjutkan. Rombongan kemudian menempuh safar darat menuju Madinah, dengan waktu tempuh sekitar enam jam. Meski tubuh mulai lelah, semangat tetap terjaga karena tujuan yang dinanti adalah kota Rasulullah ﷺ.

Sekitar satu jam menjelang fajar, bus berhenti di rest area. Saat jamaah turun, udara terasa sangat dingin, disertai hembusan angin gurun yang kencang hingga menusuk tulang. Sebagian jamaah menghangatkan diri dengan secangkir kopi, ada yang merokok, dan ada pula yang berbincang lirih, merasa takjub menyaksikan hamparan gunung tandus dan cuaca ekstrem yang jauh berbeda dari bayangan sebelumnya.

Pukul 05.40, setelah menunaikan sholat subuh, perjalanan dilanjutkan. Hati jamaah mulai tak tenang—rindu dan penasaran menyatu. Mikrofon bus pun dihidupkan. Disampaikanlah sejarah Kota Nabi, keutamaan Madinah, dan kemuliaan menjadi tamu Allah di tanah yang penuh berkah. Kata demi kata membakar semangat, menguatkan niat, dan menenangkan lelah.

Akhirnya bus tiba di hotel madinah. Jaraknya sangat dekat dengan Masjid Nabawi, hanya sekitar dua menit berjalan kaki, tepat di sekitar pintu 305. Tanpa menunggu lama, kunci kamar dibagikan oleh tim travel yang sigap dan penuh pelayanan.

Kamar yang bersih, toilet yang masih baru, serta teras luas yang bisa dijadikan halaqah membuat jamaah merasa aman dan nyaman. Setelah bersiap sejenak, tak satu pun ingin berlama-lama di kamar. Hati sudah tertambat ke Masjid Nabawi—ingin segera sholat berjamaah, sholat sunnah, berzikir, membaca Al-Qur’an, dan menumpahkan doa di hadapan Rasulullah ﷺ.

Safar ini baru dimulai, dan hati pun mulai belajar: bahwa setiap langkah menuju Allah selalu disertai ujian, namun di balik lelah itu tersimpan kemuliaan.


Dini hari langkah doa berangkat bersama,

air mata dan senyum berpadu terasa 

Bahagia menuju tanah suci nan mulia 

sedih berpisah dengan keluarga tercinta 


Di langit panjang kami melayang lama 

lelah, dingin, dan guncangan menyapa 

Namun sabar tetap menjadi teman setia 

sebab umroh perjalanan iman mulia 


Gurun tandus menyambut langkah nyata 

angin dingin menguji jiwa yang bersua 

Menuju Madinah hati pun bergetar rasa,

rindu pada kota Nabi semakin terasa 


Saat Masjid Nabawi tampak di mata 

sujud syukur pun tumpah ke dalam jiwa 

Ya Allah, terimalah safar umroh hamba

jadikan perjalanan cahaya abadi selamanya.


Hari-Hari Berkah di Kota Nabi

Memasuki hari kedua di Kota Madinah, semangat ibadah para jamaah justru semakin menyala. Sejak dini hari, Masjid Nabawi menjadi tujuan utama. Ada jamaah yang hampir tidak tidur sama sekali, ada pula yang sudah bangun sejak pukul 01.00 dini hari, bersiap rapi lalu bergegas ke masjid—takut kehilangan satu detik pun dari kemuliaan waktu.

Semangat yang luar biasa ini melahirkan kisah-kisah sederhana namun berkesan. Pernah suatu ketika terdengar azan tahajjud, namun disangka sebagai azan subuh. Dengan penuh keyakinan, seorang jamaah melaksanakan sholat sunnah qabliyah subuh, lalu duduk khusyuk menunggu iqamah. Ditunggu lama, sangat lama, hingga akhirnya azan kembali berkumandang. Barulah disadari, itu baru azan subuh yang sesungguhnya. Jamaah pun tersenyum—di Saudi, waktu ibadah memang panjang, dan kesabaran ikut dilatih.

Usai sholat subuh berjamaah, jamaah menuju restoran hotel untuk sarapan. Menu tersedia beragam. Ada yang makan dengan lahap penuh syukur, ada pula yang mengamati piring sambil berpikir keras, “Ini rasanya enak, tapi kok beda.” Beberapa akhirnya memilih roti dan teh hangat—karena lidah masih setia menanti sambal khas kampung halaman.

Aktivitas hari itu berjalan santai dan penuh keakraban. Sebagian jamaah memilih istirahat, ada yang berjalan-jalan membeli oleh-oleh, dan ada pula yang duduk berbincang, saling bertukar cerita tentang pengalaman safar—dari dinginnya angin Madinah hingga kaki yang mulai “protes” karena jarang diajak jalan sejauh itu.

Pada hari ketiga, setelah sarapan, jamaah mengikuti agenda ziarah: Masjid Quba, Jabal Uhud, kebun kurma, Masjid Qiblatain, dan Masjid Khandaq. Setiap tempat menyimpan pelajaran tentang perjuangan, pengorbanan, dan keteguhan iman. 

Di dalam bus, muthowwif memberikan pengantar perjalanan, sebagai upaya menghidupkan makna sebelum mata menyaksikan tempatnya. Jamaah diajak memahami bahwa setiap lokasi yang diziarahi bukan tempat biasa, tetapi saksi perjuangan Rasulullah ﷺ dan para sahabat. Dengan penjelasan ini, jamaah tidak hanya hadir secara fisik, tetapi juga hadir dengan hati dan kesadaran iman.

Ketika disebut Masjid Quba, jamaah diingatkan bahwa amal besar bisa lahir dari niat yang sederhana. Masjid pertama dalam Islam ini mengajarkan bahwa langkah awal yang ikhlas akan bernilai besar di sisi Allah. Lalu di Jabal Uhud, jamaah diajak merenungi arti ketaatan dan disiplin. Kemenangan bisa berubah menjadi ujian ketika amanah diabaikan. Uhud mengajarkan bahwa iman harus dijaga hingga akhir, bukan hanya saat awal semangat.

Sementara itu, Masjid Qiblatain menanamkan pelajaran tentang ketaatan total kepada perintah Allah, meskipun perubahan datang di tengah jalan. Adapun Masjid Khandaq mengajarkan bahwa ikhtiar, strategi, dan kebersamaan adalah bagian dari tawakal. Semua ziarah ini menyadarkan jamaah bahwa iman bukan hanya soal ibadah pribadi, tetapi juga tentang sikap hidup: taat, sabar, bersungguh-sungguh, dan setia pada jalan Allah dalam segala keadaan

 Menjelang zuhur, rombongan telah kembali ke hotel—lelah terasa di badan, namun hati justru terasa lapang. Sore harinya, tibalah waktu yang sangat dinanti: berkunjung ke Raudhah. Alhamdulillah, jamaah laki-laki mendapat kesempatan sholat asar berjamaah di sana. Doa-doa dipanjatkan dengan penuh harap; ada yang berdoa lama, ada yang terdiam, dan ada pula yang keluar sambil berujar pelan, “Tadi niatnya mau doa banyak, tapi air mata keburu turun.”

Hari-hari indah di Madinah pun perlahan mendekati akhir. Tibalah saatnya berpamitan dengan Kota Nabi, untuk melanjutkan perjalanan menuju pelaksanaan umroh di hari kelima. Sebelum berangkat, disampaikan kembali manasik umroh sebagai pengingat bahwa inilah inti dari seluruh safar.

Umroh bukan sekadar perjalanan fisik, bukan pula soal kuat berjalan atau panjangnya doa, tetapi tentang ilmu, niat yang lurus, dan tuntunan yang benar. Dengan bekal itu, jamaah pun bersiap melanjutkan perjalanan—meninggalkan Madinah dengan rindu, dan melangkah menuju Makkah dengan harap.


Di Madinah pagi bermula,

mata terjaga sebelum fajar menyapa.

Ada yang bangun sejak dini hari,

takut pahala lebih dulu pergi.


Ziarah menapak jejak sejarah,

Quba dan Uhud menambah hikmah.

Sore di Raudhah doa mengalir,

niat terpanjat, air mata pun hadir.


Kini Madinah harus ditinggalkan,

rindu tertambat di setiap jalan.

Menuju umroh tekad dikuatkan,

ilmu dan niat kembali diteguhkan.


Ya Allah, terimalah langkah kami,

dalam safar suci penuh makna dan arti.

Bukan kuat kaki yang Engkau nilai,

namun hati yang tunduk dan niat yang tulus sejati.