Menjaga Lisan di Tengah Kehidupan Manusia

  • TGH. Hardiyatullah, M.Pd
  • Disukai 0
  • Dibaca 42 Kali
-

Dalam kehidupan bermasyarakat, satu hal yang hampir tidak bisa dihindari adalah pembicaraan manusia. Selama seseorang hidup di tengah-tengah manusia, maka ia tidak akan pernah lepas dari lisan mereka—baik berupa pujian, kritik, maupun gunjingan. Abu Ulwan berkata :

"مَا دَامَ الْإِنْسَانُ يَعِيشُ بَيْنَ النَّاسِ، فَلَنْ يَسْلَمَ مِنْ أَلْسِنَتِهِمْ؛ وَلَا يَنْجُو مِنْهَا إِلَّا مَنْ جَاوَرَ أَهْلَ الْقُبُورِ."

Artinya: Selama manusia hidup di tengah manusia, ia tidak akan selamat dari pembicaraan mereka; dan tidak ada yang benar-benar selamat kecuali orang yang bertetangga dengan penghuni kubur.

Kalam ini mengandung pesan mendalam bahwa pembicaraan manusia adalah bagian dari ujian kehidupan. Tidak ada seorang pun yang benar-benar bisa menghindarinya. Bahkan orang yang paling baik sekalipun tetap akan dibicarakan. Oleh karena itu, Islam tidak mengajarkan kita untuk sibuk menghindari omongan manusia, tetapi mengajarkan bagaimana menyikapinya dengan benar.

Larangan Membicarakan Orang Lain

Allah ﷻ dengan tegas melarang perbuatan ghibah (menggunjing) dalam Al-Qur’an:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ (QS. Al-Hujurat: 12)

Ayat ini memberikan gambaran yang sangat kuat: ghibah diibaratkan seperti memakan daging saudara sendiri yang telah mati. Ini menunjukkan betapa buruk dan hinanya perbuatan tersebut.

Bahaya Lisan dalam Hadis Nabi

Rasulullah ﷺ juga mengingatkan tentang bahaya lisan dalam sebuah hadis:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ قَالَ:

"مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ، فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ."

(رواه البخاري ومسلم)

Artinya: "Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata baik atau diam." (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam hadis lain, Rasulullah ﷺ menjelaskan tentang ghibah:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ قَالَ:

"أَتَدْرُونَ مَا الْغِيبَةُ؟" قَالُوا: اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ. قَالَ: "ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ." قِيلَ: أَفَرَأَيْتَ إِنْ كَانَ فِي أَخِي مَا أَقُولُ؟ قَالَ: "إِنْ كَانَ فِيهِ مَا تَقُولُ فَقَدِ اغْتَبْتَهُ، وَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِيهِ فَقَدْ بَهَتَّهُ."

"Tahukah kalian apa itu ghibah?" Para sahabat menjawab: Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui. Beliau bersabda: "Engkau menyebut saudaramu dengan sesuatu yang ia tidak suka." (HR. Muslim)

Hadis ini menegaskan bahwa membicarakan orang lain, meskipun benar, tetap termasuk ghibah jika hal itu tidak disukai oleh orang yang dibicarakan.

Sikap Seorang Mukmin

● Dari kalam hikmah dan dalil-dalil di atas, kita dapat mengambil beberapa sikap penting:

● Menjaga lisan, karena setiap ucapan akan dimintai pertanggungjawaban.

● Tidak mudah terpengaruh oleh omongan orang, karena itu adalah bagian dari ujian hidup.

● Memperbaiki diri, bukan sibuk menilai atau menghakimi orang lain.

● Bersabar dan ikhlas, karena tidak semua pembicaraan manusia bisa kita kendalikan.