UMRAH: PERJALANAN BADAN MENUJU PERJALANAN HATI

  • TGH. Hardiyatullah, M.Pd
  • Disukai 2
  • Dibaca 117 Kali
Bersama 25 Jamaah Umroh PT Amanah Baitullah

UMRAH: PERJALANAN BADAN MENUJU PERJALANAN HATI


1. Panggilan Allah di Bulan Rajab

Umrah bukan sekadar daftar di travel. Ia adalah undangan dari langit. Banyak orang punya uang, tapi tak punya panggilan. Banyak yang ingin, tapi tak terpilih.

Syair:

Pergi umrah di bulan Rajab mulia,

dua puluh lima jamaah telah terdata,

jika ingin umrah yang benar-benar diterima,

tanamkan ikhlas dan sabar dalam jiwa.

Maknanya:

Yang terdata bukan hanya di buku Travel, tapi di Lauhul Mahfudz. Maka sejak niat, luruskan tujuan:

bukan ingin dipanggil “haji ”, tapi ingin dipanggil kekasih Allah.

2. Di Atas Awan/ pesawat : Pelajaran Tauhid

Saat pesawat terangkat, semua manusia sama tak ada Raja, tak ada kyai, tak ada pejabat—

yang ada hanyalah makhluk lemah di atas awan.

Syair:

Manusia makhluk lemah tak berdaya,

saat pesawat berguncang dada pun bergetar rasa,

hati tenang ketika pramugari berkata “tak apa-apa”,

padahal Allah-lah Penyelamat sejati, namun sering tak terasa.

Getaran pesawat mengajarkan kita:

selama ini kita menggantungkan rasa aman kepada makhluk(pilot), padahal yang menahan langit dan bumi hanya Allah.

3. Umrah adalah Madrasah Ujian

Begitu berangkat umroh, ujian datang:

antrian lama, capek, lelah, sakit, lama menunggu, kamar tak sesuai, makanan tak menarik. Dll

Inilah tanda Allah sedang mendidik kita.

Syair:

Saat ujian datang silih berganti,

engkau pun sering mengeluh pada takdir Ilahi,

coba ingat Baginda Rasulullah sang insan suci,

paling dicinta Allah, namun ujiannya tak pernah berhenti.

Jika Rasulullah ﷺ saja diuji, mengapa kita ingin ibadah tanpa ujian?

4. Di Tanah Suci, Semua Bernilai Ibadah

Di Haram dan Nabawi, pahala berlipat. Bukan hanya shalat, bahkan melayani orang pun ibadah.

Syair:

Di Tanah Suci setiap taat berlipat,

dari shalat, infak, i‘tikaf hingga berkhidmat

isi waktu dengan ketaatan meski singkat,

semoga Allah membalasnya dengan ampunan dan rahmat.


Duduk = zikir

Diam = tafakkur

Menolong = pahala

Senyum = sedekah

Sakit = Ampunan dosa


5. Adab di Hadapan Rasulullah ﷺ

Ziarah ke makam Nabi bukan wisata. Itu ujian cinta dan adab.

Syair:

Janganlah bangga saat di maqbarah Nabi,

membaca Al-Qur’an hingga khatam berkali-kali,

jika di hadapan sesama lisan gemar mencaci,

maka perbanyaklah tafakkur atas salah diri.


Kalau di depan Rasul kita menangis, tapi di belakang Rasul kita menyakiti orang, maka itu tanda air mata belum sampai ke hati.

6. Tanda Umrah yang Diterima

Umrah yang mabrur bukan terlihat di foto, tapi terlihat setelah pulang.

Syair:

Banyak cara manusia meraih kesenangan,

berlibur dan bercanda bersama handai-taulan,

namun teman terbaik yang patut diidamkan,

ialah yang membimbing hati menuju kebaikan.


Jika setelah umrah:

lebih sabar,

lebih jujur,

lebih rajin shalat,

lebih lembut pada keluarga,

itulah tanda Allah menerima safarmu.

Penutup

Umrah bukan tentang jauh perjalanan,

tapi tentang dekatnya hati kepada Allah.

Semoga kita tidak hanya pulang membawa air zamzam dan kurma,

tetapi pulang membawa hati yang baru.