Penantian dalam Keyakinan: Perjalanan Cinta yang Diberkahi

  • TGH. Hardiyatullah, M.Pd
  • Disukai 0
  • Dibaca 75 Kali
Ehemmm

Pada tahun 2012, di usia 25 tahun, saya mulai berpikir serius tentang masa depan, terutama mengenai siapa yang akan menjadi pendamping dalam bahtera rumah tangga. Saya merasa sudah saatnya membangun kehidupan yang lebih matang dan terarah.

Di awal perjalanan itu, saya menemukan beberapa sosok yang membuat hati saya tertarik. Awalnya, rasa suka muncul begitu saja, namun anehnya, setelah beberapa bulan—sekitar empat bulan—perasaan itu perlahan memudar tanpa alasan yang jelas. Saya mencoba menganalisis diri, bertanya-tanya apakah saya terlalu cepat mengambil kesimpulan, atau mungkin itu cara Allah mengarahkan saya kepada yang lebih baik.

Saya pun meningkatkan standar pencarian. Kriteria yang saya tetapkan cukup tinggi, baik dari segi nasab, kepribadian, maupun kecocokan dalam visi hidup. Saya berharap menemukan seseorang yang tidak hanya menjadi pasangan, tetapi juga partner dalam menjalani kehidupan yang penuh makna. Namun, meskipun beberapa kali bertemu dengan orang yang sepertinya memenuhi kriteria, hubungan itu tetap tidak berlangsung lama.

Proses ini membuat saya semakin introspektif, menyadari bahwa cinta sejati bukan hanya soal kecocokan awal atau standar yang tinggi, tetapi juga keberkahan, kesabaran, dan keyakinan. Saya mulai berpikir bahwa mungkin Allah sedang menyiapkan seseorang yang benar-benar tepat untuk saya, meskipun harus melalui perjalanan yang penuh dengan ujian dan penantian.

Perjalanan ini tidak hanya membentuk harapan saya tentang pasangan hidup, tetapi juga mengajarkan tentang arti kesabaran, keikhlasan, dan pentingnya berdoa agar keputusan yang diambil sesuai dengan petunjuk-Nya. Hingga akhirnya, perjalanan ini membawa saya bertemu dengan sosok yang benar-benar mengubah segalanya.

Pada tahun 2013, momentum Safari Haul masih dipimpin oleh ayahanda, TGH. Ridwanullah, sebagai mursyid yang penuh kharisma. Jadwal majlis zikir malam itu berlangsung di Masjid Dusun Rarangan, Kuripan Timur. Seperti biasa, sebelum acara dimulai, rombongan transit terlebih dahulu di rumah salah satu tokoh atau pengurus cabang setempat untuk menikmati santap malam.

Saat itu, rumah tempat transit adalah kediaman keluarga yang ternyata menjadi bagian dari takdir saya. Kebetulan, salah satu anggota keluarga di rumah tersebut adalah seorang gadis muda yang baru saja kembali dari pondok pesantren. Ia dengan sigap membantu menjamu para tamu dan menemani Ummina saat makan. Saya sendiri, malam itu, datang terlambat karena beberapa urusan sehingga langsung menuju masjid tanpa sempat mengikuti rombongan ke tempat transit.

Sesampainya di masjid, saya bertemu dengan H. Fawaz ( ipar ) yang kala itu bertugas menjadi sopir rombongan. Dengan wajah penuh semangat, ia berkata, “Coba tadi ikut rombongan, ada gadis cantik yang cocok untuk side.” Mendengar hal itu, saya tersenyum, setengah bercanda dan setengah penasaran, lalu menjawab, “Ayo kita kembali ke sana kalau begitu.”

Namun, acara sudah dimulai, dan kewajiban menghadiri majlis zikir lebih utama daripada memuaskan rasa penasaran. Saya pun memutuskan untuk menunda keinginan tersebut dan mengikuti acara dengan khusyuk. Meski demikian, benih penasaran mulai tumbuh dalam hati.

Cerita ini menjadi awal dari kisah panjang yang perlahan mempertemukan kami pada ikatan yang lebih kuat. Ada jalan yang unik dan penuh hikmah dalam setiap perjalanan hidup, dan malam itu, meski sederhana, telah menjadi pintu kecil menuju babak baru dalam hidup saya.

Hari-hari pun berlalu, Dalam salah satu kesempatan, saya bertemu dengan pengurus cabang Jamaah Al-Muawanah dari Dusun Berambang, Kuripan Timur. Memandang ini sebagai peluang, saya tak ragu menggali informasi tentang rumah tempat transit yang sempat disebut H. Fawaz. Dengan sedikit rasa malu, saya bertanya, “Siapa pemilik rumah tempat transit waktu acara di Dusun Rarangan? Saya dengar ada gadis sholehah di sana.”ehem ... (sambil berdehem)

Pengurus itu tersenyum, seolah mengerti maksud di balik pertanyaan saya. Ia menjelaskan bahwa rumah tersebut milik TGH. Jazuli, seorang ulama keturunan TGH. Arif, yang dikenal sebagai Dato’ Arif, seorang dai besar dan ahli zikir pada zamannya. Saya mendengarkan dengan penuh antusias, mencoba menyimpan setiap detail informasi yang ia sampaikan.

Ia kemudian melanjutkan, “Gadis yang kau maksud itu namanya Ruka’yah. Baru saja selesai mondok di Kediri dan sekarang sedang kuliah semester dua di IAIN Mataram. Tapi, jangan salah, Ruka’yah ini anaknya jarang sekali keluar rumah. Ia lebih banyak menghabiskan waktu di rumah, tidak seperti kebanyakan gadis seusianya.”

Keterangan itu justru membuat rasa penasaran saya semakin besar. Nama Ruka’yah mulai memenuhi pikiran saya. Sosok yang sederhana, sholehah, dan berasal dari keluarga ulama membuat hati saya semakin ingin tahu lebih banyak. Dengan penuh harap, saya meminta bantuan pengurus tersebut, “Bisakah kau meminta nomor Ruka’yah untukku? Aku ingin mengenalnya lebih jauh.”

Ia mengangguk, menyiratkan kesediaannya untuk membantu. Dalam hati, saya mulai berpikir bahwa mungkin ini bukan sekadar rasa penasaran biasa. Ada sesuatu yang berbeda, seperti takdir yang sedang berjalan perlahan. Cerita ini pun berlanjut, membawa saya selangkah lebih dekat kepada seseorang yang kelak akan menjadi pendamping hidup saya.

Setelah beberapa lama menunggu dengan penuh harap, akhirnya saya mendapatkan nomor gadis itu dari sang pengurus. Namun, jalan menuju nomor tersebut ternyata tidak mudah. Butuh waktu dan usaha ekstra hingga akhirnya nomor itu sampai di tangan saya.

Sambil tersenyum mengingat kejadian itu, saya bertanya pada sang pengurus, “Kenapa lama sekali mendapatkan nomornya?” Ia menjawab sambil terkekeh, “Ini saja sudah luar biasa, karena saat saya mencoba meminta nomor, langsung ditanya macam-macam oleh Umminya Ruka’yah. Bahkan, bisa dibilang, saya sempat ‘diteror’ olehnya.”

Mendengar cerita itu, saya tertawa, membayangkan betapa protektif dan berhati-hatinya keluarga gadis tersebut. Mereka memang bukan keluarga yang mudah memberikan akses kepada siapa saja. Namun, justru itulah yang semakin membuat saya yakin bahwa Ruka’yah berasal dari keluarga yang menjaga nilai-nilai dan kehormatan.

Pengurus itu melanjutkan, “Awalnya, Umminya menolak memberikan nomor. Katanya, untuk apa anak gadisnya memberikan nomor pada orang yang belum dikenal? Tapi setelah saya jelaskan siapa dirimu, bagaimana latar belakangmu, dan niatmu, barulah perlahan ia luluh.”

Saya hanya bisa tersenyum, merasa terhormat sekaligus tertantang. Perjalanan ini tidak mudah, tapi setiap langkahnya terasa penuh makna. Nomor itu akhirnya menjadi pintu kecil menuju sebuah perkenalan yang lebih dalam. Dan di balik setiap usaha yang telah dilalui, saya semakin yakin bahwa ini semua bagian dari rencana indah yang telah Allah tetapkan. Cerita pun terus berlanjut, menuju babak yang semakin menarik.

Dengan rasa penasaran yang tak tertahankan, akhirnya saya memberanikan diri mengirimkan pesan SMS kepada Ruka’yah. Saat itu, aplikasi seperti WhatsApp belum ada, jadi pesan singkat adalah satu-satunya cara. Saya ingat jelas, pesan pertama yang saya kirim berbunyi:

“Assalamualaikum, saya Hardi, pendekar Bermi. Mau kenalan.”

Pesan itu saya kirimkan siang hari, dengan harapan bisa mendapatkan balasan secepatnya. Namun, waktu terasa berjalan begitu lambat. Jam demi jam berlalu, tapi layar ponsel saya tetap sunyi. Rasa penasaran bercampur gelisah mulai memenuhi pikiran saya.

Barulah sekitar pukul 10 malam, balasan itu akhirnya datang. Lama sekali menunggu, seperti menunggu hujan turun di musim kemarau. Dengan hati berdebar, saya membuka pesan itu. Ternyata, balasan yang saya terima singkat namun sopan, mencerminkan kepribadiannya yang penuh kehati-hatian.

Momen itu menjadi langkah awal dalam membangun komunikasi dengan seseorang yang diam-diam sudah menarik perhatian saya. Meski baru sebatas pesan singkat, ada rasa senang yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Waktu itu, saya yakin, ini adalah awal dari sesuatu yang lebih besar. Cerita pun terus bergulir, dengan rasa penasaran dan semangat yang tak pernah surut.

Komunikasi kami terus berjalan, semakin akrab dari hari ke hari. Selama dua bulan, kami berbagi cerita tentang berbagai hal—agama, kehidupan, hingga candaan ringan yang membuat percakapan kami terasa menyenangkan. Meski begitu, kami belum pernah bertemu langsung. Kesempatan untuk bertatap muka belum juga datang, seolah waktu dan situasi belum mengizinkan.

Suatu hari, saya dijadwalkan mengisi pengajian di Dusun Berambang. Mendengar kabar ini, saya melihat peluang untuk bertemu dengannya. Kebetulan, Umminya juga termasuk salah satu jamaah pengajian tersebut. Saya pun meminta agar ia ikut mengantar Umminya sekaligus menghadiri acara. Dalam hati, saya berharap ini menjadi momen pertemuan pertama kami.

Ketika pengajian dimulai, saya menyampaikan materi dengan sepenuh hati. Namun, di sela-sela itu, saya tak kuasa menahan rasa penasaran. Pandangan saya sesekali melirik ke arah jamaah yang hadir, berharap bisa melihat sosoknya. Sayangnya, semua yang hadir tampak berusia 40 tahun ke atas. Tak ada seorang pun yang terlihat seperti gadis yang saya kenal lewat ponsel.

Usai pengajian, rasa penasaran saya semakin memuncak. Namun, ternyata dia memilih untuk bersembunyi. Bahkan, begitu pengajian selesai, ia langsung pulang tanpa menampakkan diri. Tak lama setelah itu, ponsel saya bergetar, tanda ada pesan masuk. Pesan darinya berbunyi, "Maaf, ndak berani menampakkan diri."

Saya tersenyum membaca pesannya, meski ada sedikit rasa kecewa. Namun, dengan hati yang lapang, saya membalas, "Baiklah, insyaallah saya orang yang sabar." Jawaban itu bukan sekadar kata-kata, melainkan janji kepada diri sendiri untuk tetap bersabar dalam menanti takdir yang sedang dijalankan Allah.

Cerita ini pun terus berlanjut, semakin menarik dengan liku-liku yang penuh hikmah. Pertemuan yang dinanti mungkin belum terjadi, tapi keyakinan saya tak pernah surut. Ada sesuatu yang istimewa di balik perjalanan ini, dan saya yakin waktu akan membawa kami ke arah yang lebih indah.

Suatu hari, tanpa sepengetahuan saya, ia datang ke Pondok Bermi untuk menjenguk temannya. Rupanya, ia sengaja tidak memberi tahu saya bahwa ia akan datang. Namun, takdir seolah mempertemukan kami tanpa direncanakan. Saat itu, saya sedang berdiri di depan gerbang pondok, dan tiba-tiba saya melihat seorang perempuan bercadar keluar dari gerbang asrama bersama seorang santriwati lain yang saya tahu berasal dari kampung yang sama dengannya.

Sekilas, pandangan saya tertuju pada sosoknya. Ada sesuatu dalam dirinya yang membuat saya yakin bahwa itu pasti dia. Terlebih, dari gerak-geriknya terlihat jelas ia tampak gugup, seolah-olah menyadari keberadaan saya. Namun, saya menahan diri untuk tidak menyapa atau bertanya langsung di depan gerbang. Rasanya tidak sopan jika saya menunjukkan rasa penasaran di saat seperti itu.

Beberapa saat kemudian, ponsel saya bergetar. Pesan singkat darinya masuk, berbunyi, "Saya tadi yang di depan gerbang." Membaca pesan itu, saya tersenyum kecil, merasa lega sekaligus terkejut. Tanpa ragu, saya membalas pesannya, "Cukup sekedar melihat mata indah meskipun sesaat, itu sudah cukup untuk mengobati rasa penasaran berbulan-bulan."

Meskipun pertemuan itu singkat dan tanpa kata-kata, momen tersebut terasa begitu berarti. Pandangan singkat di depan gerbang itu adalah jawaban dari penantian panjang, membuktikan bahwa kehadiran tak selalu membutuhkan perbincangan panjang. Bahkan, sesaat saja sudah mampu menghadirkan rasa hangat yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Cerita kami pun terus berlanjut, penuh dengan kejutan kecil yang menguatkan keyakinan saya bahwa perjalanan ini telah digariskan dengan indah oleh Allah.

Setelah lebih dari empat bulan saling berkomunikasi lewat SMS, berbagi cerita, curhat, dan berdiskusi seperti layaknya pasangan yang sedang berayean, akhirnya saya memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaan saya. Saya ingin hubungan ini lebih serius.

Ketika saya mengutarakan niat tersebut, dia bertanya dengan jujur, "Kan kita belum pernah bertemu langsung, nanti bagaimana kalau kecewa?"

Saya menjawab dengan keyakinan yang datang dari hati, "Cinta itu adalah pemberian Tuhan, datangnya lewat jalur yang berbeda-beda. Jika dari mata, bisa jadi menipu. Namun, hati terdalam ini sudah merasa yakin."

Jawaban itu ternyata cukup untuk meyakinkannya, dan dia pun menyambut baik perasaan saya. Dengan penuh semangat, saya menceritakan hal ini kepada Ayahanda. Saat mendengar cerita saya, beliau hanya tersenyum. Dukungan beliau semakin kuat ketika tahu bahwa dia adalah keturunan Datok Arif, seorang dai dan ahli zikir yang sangat dihormati. Ayahanda pun menyarankan saya untuk datang ke rumahnya sebagai tanda keseriusan.

Namun, menjelang hari pertemuan itu, rasa gugup mulai menguasai diri saya. Bahkan, sebelum sampai di rumahnya, perut saya mulai terasa sakit karena leger (gugup luar biasa). Saya akhirnya meminta kawan dekat untuk menemani, sekadar menenangkan diri. Sebelum sampai, saya juga meminta informasi kepada Umminya agar mereka tidak terkejut dengan kedatangan saya.

Ketika kabar itu sampai ke Umminya, beliau terkejut sekaligus heran. Sambil tersenyum, beliau berkata ke rukayyah "Pantas saja kamu senyum-senyum kalau lihat HP. Ternyata dekat dengan Hardy." Mendengar berita itu, saya merasa lega karena beliau mengizinkan saya datang.

Waktu yang telah ditetapkan untuk berkunjung ke rumahnya akhirnya tiba. Dengan segala keyakinan yang telah saya kumpulkan, saya memberanikan diri melangkah menuju rumah calon mertua. Rasa gugup tentu saja ada, tetapi saya yakin bahwa keberanian ini adalah bagian dari perjuangan menuju kebahagiaan yang telah Allah takdirkan.

Modal saya sederhana: keyakinan dan niat yang tulus untuk menjalani kehidupan bersamanya. Sebelum berangkat, saya memastikan segala persiapan sudah matang, termasuk doa yang tak henti saya panjatkan agar semua berjalan lancar. Saya juga ditemani seorang sahabat dekat untuk memberikan dukungan moral.

Namun, tak bisa dipungkiri, rasa gugup menyerang begitu hebat saat mendekati rumahnya. Perut saya terasa melilit, tanda bahwa hati saya dipenuhi rasa cemas bercampur harap. Tapi saya terus meyakinkan diri, "Ini adalah langkah penting dalam hidupku. Jika aku tak berani sekarang, kapan lagi?"

Saat tiba di depan rumah, saya disambut dengan ramah oleh keluarga, termasuk umminya. Sambutan hangat itu sedikit meredakan ketegangan yang saya rasakan. Dan saya dipersilahkan duduk di ruang tamu, beberapa menit berlalu perasaan senang dan penasaran mengguncang dan bergelora di dada sambil menanti hidangan yang datang dan di bawa oleh si gadis laksana di film turki. Eh ternyata umminya yang bawa teh... saya mengelus dada dan akhirnya setelah itu datanglah yang di tunggu tunggu si gadis yang menunduk dengan senyuman indah sambil membawa makanan. 

Akhirnya mata ini bisa memandangnya secara langsung, hati saya seketika bergetar. Awalnya, saya hanya berpikir bahwa dia adalah wanita yang cantik, namun ternyata kenyataannya jauh melampaui dugaan saya. Dia bukan hanya cantik, tetapi super cantik, dengan keanggunan dan manisnya yang terpancar secara alami.

Momen itu seperti menjadi jawaban atas pencarian panjang saya. Semua keraguan dan kegelisahan yang pernah saya rasakan seolah sirna dalam sekejap. Saat itu, saya tidak hanya melihat kecantikannya secara zohir, tetapi juga merasakan keindahan hati dan kelembutannya yang begitu tulus.

Dalam hati saya berkata, "Inilah dia, pilihan yang selama ini saya nantikan." Tidak ada lagi alasan untuk ragu atau menunda. Bathin dan zohir saya telah sepakat, dia adalah takdir yang Allah tuliskan untuk melengkapi perjalanan hidup saya.

Perasaan itu semakin memantapkan keyakinan saya untuk melangkah lebih serius, membangun komitmen yang suci dan diberkahi. Saya percaya bahwa ini adalah awal dari perjalanan cinta yang penuh makna, dengan dia sebagai sosok yang akan menjadi teman sejati dalam suka maupun duka.

Segera setelah itu, saya menginformasikan kepada kedua orangtua tentang keputusan ini. Dengan penuh harapan, saya menyampaikan niat untuk menikah. Alhamdulillah, mereka merestui sepenuhnya. Namun, dalam proses ini, ada satu hal yang harus kami tunggu: kepulangan TGH. Jazuli, mertua saya, yang telah bermukim di Makkah selama 25 tahun. Beliau adalah seorang yang dihormati, dan tentu saya ingin pernikahan kami mendapat keberkahan dengan kehadiran beliau.

Dalam dialog antara keluarga saya dan keluarga calon istri, akhirnya tercapai kesepakatan. Akad nikah akan dilaksanakan setelah TGH. Jazuli kembali ke tanah air. Waktu itu, meskipun harus menunggu, saya merasa sangat bahagia karena segala sesuatunya berjalan sesuai harapan. Akhirnya di tetapkan tanggal 31 januari 2014 merupakan hari istimewa dalam hidup kami.

Sambil menanti kepulangan beliau, kami mulai mempersiapkan segala hal untuk pernikahan. Dari hari ke hari, kami saling menguatkan satu sama lain, memastikan semua rencana berjalan lancar. Persiapan ini bukan hanya soal materi, tetapi juga tentang membangun pondasi hubungan yang kokoh, agar bahtera yang akan kami jalani bisa berjalan harmonis dan diberkahi Allah.